Tunu Manu (Upacara Bakar Ayam)
Penutur: Deonatus Jama Bohe (Ketua Lembaga Kampung Adat Rate Nggaro).
Tunu manu adalah ritual adat pembakaran ayam dalam kepercayaan Marapu yang berfungsi sebagai sarana persembahan, permohonan, dan komunikasi spiritual antara manusia dengan leluhur atau Marapu. Kata tunu berarti membakar, sedangkan manu berarti ayam, sehingga tunu manu dimaknai sebagai tindakan membakar ayam yang disertai sirih pinang dan doa adat untuk menyampaikan maksud tertentu.
Dalam tatanan adat Ratenggaro, tidak semua ritual persembahan ditujukan langsung kepada Marapu Matuyo. Adat membedakan dengan tegas antara persembahan khusus dan persembahan umum, masing-masing memiliki tujuan, tata cara, dan tingkat kesakralan yang berbeda.
Tunu Manu khusus biasanya dilakukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga, misalnya ketika seseorang mengalami mimpi buruk, firasat buruk, atau gangguan batin. Dalam ritual semacam ini tidak dilakukan persembahan kepada Marapu Matuyo; cukup dengan membakar ayam atau sesaji kecil sebagai bentuk pemberitahuan dan penghormatan kepada leluhur keluarga tanpa darah yang dipersembahkan di batu sakral. Ritual ini bersifat tertutup dan sederhana.
Tunu Manu umum merupakan ritual adat besar yang melibatkan seluruh kampung dan wajib dipusatkan di Marapu Matuyo. Salah satu contohnya adalah upacara Saiso, yaitu upacara pengorbanan babi sebagai persembahan utama. Upacara ini beriringan dengan pesta Woleka dan seluruh warga kampung terlibat. Persembahan yang dibawa beragam, mulai dari ternak kecil seperti telur ayam, ayam, babi, hingga kerbau, semuanya dipersembahkan kepada Marapu Matuyo sebagai tanda syukur dan permohonan berkat bersama.
Selain itu, terdapat ritual kewajiban adat yang harus dilaksanakan meskipun tanpa undangan resmi, misalnya tunu manu nale, dan wajib dipersembahkan kepada Marapu Matuyo. Kewajiban ini terbagi menjadi dua jenis utama: manu paddu, yaitu persembahan ayam sebagai ritual persiapan menanam (biasanya Oktober), dan tunu manu nale sebagai ritual menjemput berkat hasil tanam berupa bulir padi dan jagung yang biasanya dilakukan pada Maret bertepatan dengan rangkaian Pasola. Dalam ritual ini, nale (cacing laut) muncul secara musiman sebagai pertanda berkat panen.