
Tentang Ratenggaro
Kampung Adat Ratenggaro terletak di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, tepat di pesisir selatan Pulau Sumba. Kampung ini berjarak sekitar 56 km dari Tambolaka dan dapat ditempuh dalam waktu 1,5–2 jam melalui jalan beraspal yang cukup baik. Karena belum tersedia akomodasi umum, pengunjung biasanya menyewa kendaraan atau menggunakan jasa travel dari Tambolaka.
Masyarakat Ratenggaro menganut kepercayaan Marapu, yaitu pemujaan terhadap leluhur, yang sangat memengaruhi kehidupan dan arsitektur mereka. Rumah-rumah adat berbentuk panggung dengan menara atap menjulang hingga 30 meter, tertinggi di Pulau Sumba. Menara atap ini melambangkan status sosial sekaligus penghormatan kepada arwah leluhur, menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sarana ritual.
Nama Ratenggaro berasal dari kata rate (kuburan) dan nggaro (nama suku pertama yang mendiami wilayah tersebut). Kampung ini menyimpan 304 kubur batu berbentuk persegi seperti meja yang berasal dari tradisi megalitik. Dalam sejarahnya, Ratenggaro mengalami tiga kali kebakaran besar, termasuk pada tahun 1964 dan 2004, yang menyebabkan seluruh atau sebagian kampung musnah dan harus dibangun kembali melalui proses ritual adat yang ketat.
Pola permukiman Ratenggaro bersifat sakral dan tidak pernah berubah, dengan empat rumah utama yang mewakili empat penjuru mata angin. Selain sebagai situs budaya, kampung ini juga menjadi destinasi wisata, menawarkan aktivitas seperti menunggang kuda, bermain di pantai, dan mengenakan busana adat Sumba, meskipun pengunjung perlu berhati-hati dalam kesepakatan harga sewa dengan penduduk setempat.