Kembali ke Cerita Rakyat

Pasola

Penutur: Deonatus Jama Bohe (Ketua Lembaga Kampung Adat Rate Nggaro).

Secara umum Pasola dimaknai sebagai perayaan kegembiraan untuk menjemput hasil tanam, yang berkaitan erat dengan siklus pertanian masyarakat Kodi. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada bulan Februari dan Maret. Pada mulanya, Pasola dilakukan pada bulan Februari, namun karena adanya rangkaian prosesi adat berupa tunu manu nale (bakar ayam) untuk menyambut kemunculan nale, pelaksanaannya kemudian terbagi: prosesi awal pada Februari, sedangkan Pasola di dua lokasi utama berlangsung pada Maret.

Pasola bersifat terbuka, sehingga siapa saja boleh mengikutinya tanpa memandang asal-usul kampung, selama memiliki kuda dan memenuhi ketentuan adat. Unsur terpenting dalam Pasola adalah kuda Ndara Nale, kuda induk yang ditempatkan di Kampung Nggalu sebagai pusat kepemimpinan adat. Penempatan Ndara Nale di Nggalu merupakan hasil kesepakatan sepuluh kampung, dan berfungsi sebagai ketua nale yang mengatur jalannya Pasola sekaligus menjadi simbol kepemimpinan dalam pembacaan serta pengaturan syair adat.

Dalam struktur adat Pasola terdapat peran Rato Nale yang secara historis berasal dari Kampung Tohik Pukubani di Kecamatan Kodi sebagai kampung induk. Tugas utama Rato Nale adalah melantunkan syair adat dan memberi arahan kepada para pemain lembing selama Pasola berlangsung. Jabatan ini bersifat keturunan dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Selain Ndara Nale, terdapat dua kuda adat lain yang memiliki fungsi khusus: Ndara Halato di Kampung Ratenggaro berperan sebagai wakil Ndara Nale dengan tugas mengontrol jalannya Pasola; sedangkan Ndara Wora bibit di Kampung Watu Lade bertugas memilih dan menandai persembahan pada waktu-waktu tertentu. Ketiga kuda adat ini membentuk satu kesatuan simbolik yang menjaga keseimbangan, keteraturan, dan kesakralan Pasola sebagai upacara adat yang menghubungkan manusia, alam, dan Marapu.