Kisah Wopalari dan Bila Kaka

Narasumber: Aleksander Bali Mema (keturunan kelima dari Ra-Panna)
Billa Kaka adalah seorang perempuan berusia 25 tahun yang belum menikah, putri dari Ra'-Panna dan Panna. Ketika orang tuanya memutuskan sudah waktunya ia menikah, ayahnya mengumumkan festival Wolek (perayaan perjodohan tradisional) selama sebulan dengan musik dan tarian setiap malam untuk membantu Billa Kaka menemukan suami yang cocok.
Selama hampir sebulan, tidak ada pelamar yang menarik hatinya. Namun dalam dua minggu terakhir, seorang sosok misterius bernama Wopalari muncul — tampak megah dengan perlengkapan yang luar biasa. Yang luar biasa, hanya Billa Kaka yang bisa melihatnya; tidak ada tamu festival lain yang bisa melihat kehadirannya.
Pada malam keempat dan terakhir, Wopalari tidak muncul. Menjelang sore, Billa Kaka meninggalkan tarian untuk minum air di Uma Harri. Ketika ia mendekati tempayan air (padalo) dan membukanya, ia tiba-tiba menghilang di hadapan semua saksi.
Dua tahun kemudian, Billa Kaka kembali sendirian. Ia mengungkapkan bahwa ia telah menikah dan memiliki dua anak yang disebut ana kawica (makhluk berbentuk cumi-cumi/gurita). Billa Kaka menyampaikan pesan penting kepada keluarganya dan lima kampung lainnya: mereka tidak boleh mengejek atau mempermalukan penampilan anak-anaknya.
Ia juga memproklamirkan larangan adat yang berlaku selamanya melalui semua keturunannya: siapa pun yang mencuri hewan di Kampung Pakare akan menghadapi hukuman di sungai. Peringatan dan larangan ini ditetapkan sebagai hukum adat abadi.