Kembali ke Cerita Rakyat

Batu Persembahan Marapu Matuyo sebagai Pilar Adat

Ilustrasi cerita rakyat: Batu Persembahan Marapu Matuyo sebagai Pilar Adat

Marapu Matuyo adalah batu persembahan paling sakral di Kampung Rate Nggaro. Berbeda dengan kampung lain yang menempatkan batu ini di sebelah kanan, Rate Nggaro memiliki keunikan karena sudah ada Marapu Matuyo leluhur terdahulu, sehingga batu sakral kedua untuk persembahan umum desa ditempatkan di sebelah kiri.

Batu Marapu Matuyo berusia ratusan tahun, berasal dari awal berdirinya kampung, dan dipindahkan secara upacara dari permukiman awal di Woyo untuk melambangkan kesinambungan tradisi.

Semua ritual besar berpusat di batu ini, termasuk tunu manu (upacara bakar ayam) dan ndakur wawi (upacara tikam babi). Persembahan hanya dilakukan oleh Rato Marapu (pemimpin ritual dengan otoritas leluhur).

Proses ritual melibatkan membawa hewan ke batu, menempatkan sirih dan pinang, lalu mengorbankan hewan di sana. Darah dan organ hewan (jantung) diteteskan di atas batu dengan beras ditempatkan di batu berbentuk piring sebagai simbol kehidupan dan penghormatan leluhur.

Hanya setelah Marapu dipercaya telah menerima persembahan, barulah masyarakat yang berkumpul dapat makan bersama.

Batu ini berfungsi sebagai pilar tradisi — titik pertemuan antara manusia dan leluhur, pengikat kekerabatan, dan penjaga keseimbangan antara kampung, alam, dan alam Marapu.